Logo
TINGKATKAN KREATIVITAS DAN INOVASI PEMBELAJARAN ABAD 21 ERA PANDEMI

Kategori : Sekolah
Dibaca : 2147483648 Kali
Kamis , 29 Juli 2021

Salah satu hasil dan rekomendasi Focus Group Discussion (FGD) sebelumnya (28 Juni 2021) adalah menjadikan kegiatan FGD sebagai kegiatan rutin bulanan. Sebagai tindak lanjutnya, maka SMA Nurul Jadid (SMANJ) kembali menggelar kegiatan FGD dengan mengangkat tema “Tingkatkan Kreativitas dan Inovasi Pembelajaran Abad 21 di Era Pandemi” pada hari Kamis, 8 Juli 2021 yang bertempat di ruang galeri SMANJ. Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen SMANJ untuk terus melakukan inovasi, perbaikan kuantitas dan kualitas yang berkelanjutan (Continous Quality Improvement). Kegiatan kali ini terasa sangat istimewa karena dihadiri oleh salah satu pakar pendidikan PP. Nurul Jadid yakni Bapak Ahmad Sahidah, Ph.D. Beliau adalah Dosen Pengajar Universitas Nurul Jadid (UNUJA) dan Dosen di salah satu universitas di Malaysia.

Seperti biasa, sebagaimana tradisi di Pesantren Kegiatan FGD dimulai dan dibuka dengan pembacaan Surat Al Fatihah bersama. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan kepala sekolah SMANJ. Dalam sambutannya “Bapak Didik P. Wicaksono, S.Sos., M.Pd., mengawali dengan me-remind 3 program utama SMANJ, yakni: 1) Integrasi Program sekolah dengan pesantren, 2) Menjadi Sekolah Unggul (dalam hal Performance, Pelayanan dan Prestasi), Sekolah Penggerak internal dan eksternal (internal: menjadi sekolah herbal, edu-wisata dan sekolah edu-preneur; eksternal: menjadi pusat pembelajaran dan/atau pengembangan bahasa Mandarin serta pengelolaan majalah sekolah/ MISI), dan sekolah penyelenggara SKS, 3) Efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran. Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwasannya mari kita jadikan era pandemi bukanlah menjadi sebagai penghalang, akan tetapi justru sebagai trigger bagi seluruh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) SMANJ untuk terus meningkatkan kreativitas dan inovasi-inovasi dalam mendidik dan mengantarkan kesuksesan peserta didik. Peserta didik SMANJ sangat heterogen dengan berbagai latar belakang budaya, asal daerah dan berbagai macam kompetensi. Oleh karena itu, dengan adanya kreativitas dan inovasi yang dilakukan oleh semua GTK SMANJ akan mampu melayani semua peserta didik dengan baik. Semua peserta didik SMANJ adalah siswa yang pandai dan cerdas di bidangnya masing-masing. Tidak ada siswa yang bodoh, tetapi belum ketemu dengan pola belajar yang baik dan guru yang pas. Tidak ada siswa yang nakal, tetapi dia belum memiliki wadah untuk berkreasi dan menunjukkan (perform) bakat-minat dan keahliannya. Nah, beragam potensi inilah yang menjadi perhatian dan konsen kita bersama dalam membimbing dan mengarahkan mereka. Kita harus meningkatkan literasi kita, khususnya literasi digital. Saat ini kita sudah berada di era teknologi yang sangat canggih, sumber belajar banyak, ada dimana-mana dan sangat mudah untuk diakses. Kalau dulu untuk menyampaian satu informasi saja, membutuhkan waktu berhari-hari agar sampai ke tujuan. Berbeda dengan saat ini justru kebalikannya, puluhan atau bahkan jutaan informasi dapat disampaikan dan diakses cukup dengan satu menit atau bahkan kurang dari itu. Oleh karena itu, semoga dengan adanya FGD kali ini banyak memunculkan ide dan masukan yang selanjutnya menjadi sumber dan referensi dalam rangka penyusunan program-program kreatif dan inovatif di tahun pelajaran 2021/2022 yang sebentar lagi kita jalankan. Semoga kita semua selalu diberikan hidayah dan maunah-Nya dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas SMANJ ke depan, sehingga selalu menjadi cahaya baru di semua lini kehidupan. Aamiin” begitulah kira-kira sambutan kepala SMANJ.

Kegiatan selanjutnya adalah paparan dari pakar pendidikan PP. Nurul Jadid yakni Bapak Ahmad Sahidah, Ph.D. Paparan dan pandangan yang disampaikan menjadi pemantik dan pemicu semangat bagi seluruh GTK SMANJ. Beliau mengawali dengan mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini dan akan mencatat semua masukan dan ide-ide kreatif yang mungkin dapat diimplementasikan di seluruh lembaga di bawah Yayasan Nurul Jadid. Karena di sisi lain beliau adalah salah satu Tim Ahli di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa sebetulnya kegiatan FGD ini adalah bentuk aplikasi teori-teori yang selama ini di jelaskan dalam perkuliahan di kampus. Terlebih saat ini yang harus dilakukan adalah meningkatkan kompetensi keterampilan (psikomotorik) dari peserta didik. Tidak bisa dipungkiri bahwasannya selama ini kita mayoritas mengedapankan kompetensi pengetahuan (cognitive) kepada siswa. Selama ini masih terlena dalam zona nyaman, pembelajaran yang diberikan hanya transfer pengetahuan dari guru ke murid (transferring of knowledge) semata, yang hampir semuanya terjadi dalam kelas yang monoton dan model pembelajaran berpusat pada guru (teachers centered). Jarang sekali guru mengasah keterampilan peserta didik secara langsung; baik praktik di laboratorium atau terjung langsung ke alam atau masyarakat. Sehingga tugas seorang guru yang semestinya menjadi motivator dan inspirator gagal dilaksanakan. Guru cenderung memperlakukan sama pada semua peserta didik dengan berbagai latar belakang tipe kecerdasan. Padahal menurut Howard Gardner ada 8 tipe kecerdasan, yaitu 1) kecerdasan linguistik dan verbal (kemampuan menggunakan kata-kata dan bahasa secara efektif, baik lisan maupun tulisan, 2) kecerdasan logika dan matematis (kemampuan dalam operasi matematika dan menganalisis masalah secara logis), 3) kecerdasan visual dan spasial (kemampuan untuk memvisualisasikan, membuat, dan memanipulasi sesuatu dalam ruang), 4) kecerdasan musikal (kemampuan untuk mengekspresikan diri, menikmati, mengamati, memahami, dan menciptakan bentuk-bentuk musik), 5) kecerdasan interpersonal (kemampuan untuk memahami dan selaras dengan perasaan, emosi, serta temperamen orang lain), 6) kecerdasan intrapersonal (kemampuan untuk menyadari dan memahami emosi, perasaan, sifat, pikiran, atau motivasi diri sendiri), 7 kecerdasan kinestetik dan jasmani (kemampuan dalam menggunakan tubuh secara terampil untuk mengekspresikan diri dan mempelajari atau memecahkan masalah), dan 8) kecerdasan naturalis (kemampuan untuk memahami alam, termasuk tanaman, hewan, lingkungan, dan lainnya). Dengan istilah lebih ekstrim, beliau menyampaikan siswa masih terjajah dalam belajar. Ditambah lagi dengan model pendidkan dan kurikulum pemerintah saat ini cenderung hanya berkutat pada administrasi. Di lain pihak, banyak hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa sesungguhnya kompetensi psikomotorik jika tercapai dengan baik, akan sangat efektif sekali dalam meminimalisir kegagalan dalam belajar dan hal ini jarang sekali dilakukan oleh guru yang kurang kreatif dan inovatif. Lantas bagaimana menjadi seorang guru yang kreatif dan inovatif? Menurut beliau, kuncinya hanyalah satu, yaitu keluar dari zona nyaman dan keluar dari rutinitas. Artinya, seorang guru dituntut untuk terus belajar dan mencoba hal-hal yang baru, rajin berdiskusi dengan teman sejawat dan berkolaborasi. Cara lain yang dapat dilakukan adalah menghindari melakukan pengulangan-pengulangan pada siswa dan guru harus pandai memetakan apa yang dibutuhkan dalam pengembangan pendidikan, tuturnya.

Memasuki agenda selanjutnya yaitu diskusi, penyampaian pandangan, gagasan dan ide-ide oleh peserta yang dipandu oleh moderator Bapak Juweni, M.Pd., kandidat Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Surabaya (UNESA) Untuk mengawali diskusi. Moderator memberikan kesempatan pertama kepada Waka Kurikulum (Didik Rahwiniyanto, S.Si., M.Pd.) untuk menyampaikan pandangannya. Dalam pandangannya, “ia memulai dengan mengingatkan GTK untuk senantiasa melaksanakan pembelajaran sebagaimana tuntutan abad 21, yakni critical thinking, creative, collaboration dan communication. Guru dituntut untuk menjadi lebih kreatif dalam merancang, melaksanakan dan melakukan evaluasi pembelajaran. Menurutnya, kreatif adalah the ability to produce novel ideas that are valued by others, yaitu kemampuan untuk menghasilkan gagasan-gagasan baru yang dapat dinilai oleh orang lain. Untuk menjadi kreatif, seorang guru harus terus membiasakan berpikir kreatif. Berpikir kreatif adalah the capacity to combine or synthesize existing ideas, images, or expertise in original ways and the experience of thinking, reacting and working in an imaginative ways (kapasitas seseorang untuk menggabungkan atau menguraikan berbagai ide, gambaran atau keahlian dengan cara yang orisinil, dan berarti juga pengalaman berpikir, bereaksi dan bekerja secara imajinatif). Seseorang yang terbiasa berpikir kreatif akan tercermin dalam tindakannya dalam kehidupan sehari-hari, yang pada akhirya akan melahirkan inovasi-inovasi, khususnya dalam pembelajaran. Inovasi merupakan praktek pelaksanaan dari ide-ide kreatif (the practical application of creative ideas). Lebih lanjut ia mengatakan bahwasannya, untuk menjadi kreatif dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu membuat (create), menggabungkan (combine), dan memodifikasi (modify). Dengan bahasa lebih sederhana, untuk menghasilkan sesuatu yang baru dapat pula dilakukan dengan cara ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Banyak temuan atau inovasi-inovasi berawal dari proses meniru yang selanjutnya akan terus dikembangkan dan menghasilkan sesuatu yang baru. Benar kata pepatah, there is no innovation, without immitation (tidak ada inovasi, tanpa meniru)” demikian pandangannya.

Kesempatan selanjutnya dberikan seluas-luasnya kepada peserta diskusi yang lain. Kegiatan diskusi berjalan sangat dinamis dan interaktif, semua anggota memberikan pandangan dan saling melengkapi satu sama lain dari berbagai sudut pandang (point of view), basic keilmuan yang dimiliki dan pengalaman-pengalaman yang telah dialami dalam proses pembelajaran. Dari dinamika yang terjadi selama proses diskusi, semua anggota memiliki persamaan pandangan dan persepsi bahwasannya diskusi bertujuan untuk menemukan gagasan dan rekomendasi bagaimana caranya agar semua GTK dapat kreatif dan inovatif dengan segala potensi yang dimiliki.

Tidak terasa kegiatan FGD berlangsung selama 3 jam lebih (09.00 12.09 WIB) menghasilkan beberapa kesepakatan dan rekomendasi terkait tema yang diangkat. Sebagai penutup, kesimpulan dalam FGD ini adalah 1) untuk menjadi kreatif, seorang guru harus keluar dari zona nyaman dan keluar dari rutinitas, 2) melayani dan memperlakukan siswa sesuai dengan bakat minat dan tipe kecerdasan yang dimiliki, dan 3) selalu berpikir positif (positive thinking) dalam segala hal.

Semoga kegiatan FGD selanjutnya dapat berjalan lebih baik dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan SMANJ. Aamiin Ya Rabbal Alamin 

TETAP SEMANGAT, JANGAN KASIH KENDOR….!!!!


Pewarta: Didik Rahwiniyanto, S.Si., M.Pd.