• heder422
  • 4
  • 1
  • 3

Selamat Datang di Website SEKOLAH MENENGAH ATAS NURUL JADID | Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SEKOLAH MENENGAH ATAS NURUL JADID

NPSN : 20546523

Jl.KH.Zaini Mun'im Karanganyar Paiton Probololinggo 67291 Jatim


kantor@smanj.sch.id

TLP : (0335) 771202


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 184742
Pengunjung : 63796
Hari ini : 13
Hits hari ini : 61
Member Online : 25
IP : 54.226.132.197
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • WIKE KRISTIAN (Siswa)
    2016-05-09 09:38:38

    karna, hanya kamu yang kurindukan ! salahkah? #yus
  • FITRIAH NUR KAMILAH (Siswa)
    2016-04-26 10:44:57

    2|3
  • UMMI KULSUM (Siswa)
    2016-04-24 10:37:02

    pengen ada pelajaran TIK tapi yahhhhh..... nasib nasib program bahasa suabuarrrrrrrrrrrr...........
  • FITRIAH NUR KAMILAH (Siswa)
    2016-04-24 10:23:32

    buat unilant semangat yah ... stuken be the winner
  • ANA MUFIDAH ZANDA (Siswa)
    2016-04-12 12:38:57

    alhamdulillah sudah bergabung,, #71
  • SHALIHIN, S.Kom. (Admin)
    2016-04-12 12:36:01

    1|2
  • ANA MUFIDAH ZANDA (Siswa)
    2016-04-12 12:33:22

    undefined
  • WIKE KRISTIAN (Siswa)
    2016-04-12 12:30:32

    ALHAMDULILLAH :D
  • UMMI KULSUM (Siswa)
    2016-04-12 12:25:21

    smanj tambah disiplin #good job
  • SOFI ZAKIYA (Siswa)
    2016-04-12 12:23:52

    alhamdulillah...sudah bisa bergabung!!!

Pondok Pesantren Ummul Quro’, saudara jauh yang dekat




 

Perjuangan kemerdekaan Indonesia bukan hanya dilakukan oleh para tentara dan prajurit saja. Pondok pesantren Juga memiliki andil besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Banyak pejuang kemerdekaan lahir dari pondok pesantren. Anda tentu masih ingat perjuangan KH. Hasyim Asyari, pendiri NU, dalam menyemangati santri-santrinya melawan penjajah.  Bahkan ada beberapa ulama yang ditangkap belanda karena dianggap membahayakan, misalnya KH. Zaini Mun’im yang pernah dipenjara selama 2 tahun di Kraksaan. Hal ini membuktikan pesantren bukan hanya mendidik santrinya dalam bidang agama namun juga menanamkan rasa cinta pada Negara. Hal tersebut juga terdapat pada panca kesadaran santri Pondok Pesantren Nurul Jadid yang ke-3 yaitu kesadaran berbangsa dan bernegara. Selain KH Zaini Mun’im ada beberapa  ulama lain yang pernah ditangkap oleh Belanda, contohnya KH. M. Habibullah; pendiri Pondok Pesantren Ummul Quro’ Glenmore, Banyuwangi. Beliau masih memiliki hubungan dengan KH. Zaini Mun’im karena istri KH. M. Habibullah, Nyai Badriah, merupakan saudara sepupu dari istri KH Zaini Mun’im yaitu Nyai Nafi’ah. Hal tersebut ditambah erat lagi dengan cucu dari KH. M. Habibullah, Syamsul Anam diambilmantu oleh pengasuh ketiga Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Abdul Wahid Zaini untuk menikahi putrinya yang bernama Eny Halimiyah binti Wahid Zaini. Karena rasa ingin tahu kami (MISI, red) yang cukup tinggi, akhirnya kami berkunjung dan bersilaturahmi ke Pondok Pesantren yang menjadi saudara Pondok Pensantren Nurul Jadid itu.

SEJARAH BERDIRINYA PP UMMUL QURO’

            PP Ummul Quro’ terdapat di daerah Glenmore Banyuwangi, sekitar 48,8 km ke arah barat dari kota Banyuwangi. Di sekeliling pesantren terdapat berhektar-hektar sawah dan beberapa aliran sungai. Dahulu masyarakat sekitar yang buta huruf dan tak mengerti tentang ajaran agama. Hingga pada tahun 1937 pendiri PP Ummul Quro’, KH M. Habibullah, dan istrinya hijrah dari Desa Toronan Pamekasan Madura ke Glenmore Banyuwangi. Beliau hijrah atas permintaan tokoh masyarakat di daerah Glenmore bernama H. Abdul Mun’im yang menyedekahkan tanahnya untuk dijadikan pondok pesantren. Namun hanya berdiri pondok pesantren dan masih belum memiliki asrama, jadi kegiatan santri setelah mengaji mereka akan pulang ke rumah masing-masing. Setelah berjalannya waktu akhirnya dibangun asrama santri yang sangat sederhana terbuat dari kayu dan bambu. Meski sederhana asrama ini sangat bermanfaat. Selain untuk tempat tidur santri asrama ini juga digunakan untuk tempat tidur para pejuang. Pada tahun 1945-1947 banyak pejuang (Gerilya) yang tinggal untuk beristirahat. KH. M. Habibullah sendiri merupakan pemimpin pasukan Hizbullah, yaitu salah satu nama kelompok pejuang yang melawan Belanda. Selain Hizbullah tedapat satu kelompok lagi yang bernama Jihad Fi Sabilillah yang mempunyai tujuan yang sama. Karena dianggap membahayakan Belanda KH. Habibullah ditangkap dan dipenjara selama dua tahun di Surabaya dari tahun 1947-1949. Setelah keluar dari tahanan beliau kembali ke Banyuwangi dan tetap mengasuh PP Ummul Quro’.

ASAL NAMA UMMUL QURO’

            Nama  PP Ummul Quro’ berasal dari bahasa Arab yaitu kata Ibu yaitu ummu (م أ) bentuk jamak dari kata desa yaitu Qoryah (قرية) , jadi Ummul Quro’ bisa diartikan "ibu dari desa-desa".  Alasan Pendiri memberi nama Ummul Quro’ karena banyak masyarakat sekitar memondokkan putra dan putrinya untuk mengaji disana. Jadi, seolah-olah  Ummul Quro’ adalah ibu dari desa-desa sekitar Glenmore dan Kalibaru. Alasan lain menamai pondok pesantren ini dengan Ummul Quro’ karena merupakan nama salah satu kota di daerah mekah dan juga terdapat dalam Al-Qur’an pada potongan surat Asy Syura ayat ke 7 yaitu

PERKEMBANGAN PP UMMUL QURO’

            Setelah bebas dari Belanda KH. Habibullah mendirikan Madrasah Diniyah pada tahun 1952. Tetapi kegiatan hanya berlangsung di serambi masjid. Pada tahun 1985 tanah peniggalan Belanda dibeli oleh KH. Habibullah kepada Balai Harta Peninggalan di Surabaya. Kemudian Loji (rumah Belanda) difungsikan sebagai tempat belajar santri. Loji tersebut dibongkar dan dibangun Madrasah Diniyah dalam kurun waktu setahun dari 1969-1970. Bukan hal mudah untuk mendapatkan sertifikat kepemilikan tanah PP. Ummul Quro’, karena tanah tersebut adalah tanah peninggalan Belanda maka diharuskan melewati beberapa tahapan agar dianggap sah. Setelah melalui beberapa proses yang panjang akhirnya pada tahun 2004, Badan Pertanahan Nasional Banyuwangi memberikan sertifikat tanah dengan istilah “pemberian hak”. Tanah yang ditinggalkan Belanda sekitar 4.750 m2. Selain tanah dari Belanda, PP. Ummul Quro’ juga memeperoleh tanah dari hasil gotong royong masyarakat yang saat ini masih kosong. Rencananya tanah tersebut akan didirikan Madrasah Diniyah. Kemudian pada tahun 1970 KH. Habibullah menyerahkan PP. Ummul Quro’ kepada putranya KH. Ahmad Khotib Habibullah. Beliaulah yang mengasuh Pondok Pesantren Ummul Quro’ dari 1970-sekarang. Pada malam Rabu tanggal 4 September 1984 tepat pukul 22.00 WIB, pendiri dan pengasuh PP. Ummul Quro’ yang pertama tutup usia. Sejak saat itu seluruh PP. Ummul Quro’ mengalami banyak kemajuan, diantaranya adalah didirikannya lembaga formal MTs Ummul Quro’ pada tahun 1987 dan MA Ummul Quro’ pada tahun 1999.

KEGIATAN SANTRI SEHARI-HARI

            PP Ummul Quro’ memiliki prinsip dasar “mempertahankan dan mengembangkan agama islam” sehingga kegiatan santri sehari-hari akan mendorong santri untuk memegang teguh ajaran agama. Para santri wajib secara mutlak untuk mengaji dan mengikuti Madrasah Diniyah sedangkan mengikuti sekolah formal hukumnya sunah tergantung kepada santri itu sendiri. Kegiatan dimulai satu jam sebelum waktu subuh, semua santri bangun untuk bersiap-siap sholat. Setelah selesai sholat para santri akan mengaji Al-Qur’an yang dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama pengenalan huruf hijaiyah hingga bisa, kelompok kedua membaca dan mengenal ilmu tajwid dan yang terakhir membaca Al-Qur’an hingga lancar dan fasih. Saat pengajian usai santri akan beristirahat dan mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Sekolah formal  berlangsung dari jam 07.00-12.00 WIB dan dilanjutkan sekolah diniyah dari jam 13.00 sampai 14.30 WIB. Selepas Asyar beberapa santri akan mengikuti pengajian kitab bagi mereka yang berada di kelas 5 Ibtidaiyah - 3 Tsanawiyah. Setelah sholat maghrib santri akan membaca dzikir dan mengaji Al-Qur’an untuk yang kedua kalinya. Kemudian pada jam 20.00-21.00 WIB mereka akan mengaji kitab salaf sesuai tingkatan masing-masing . Jam wajib belajar adalah jam 21.00-22.00 WIB setelah jam itu santri boleh beristirahat untuk kegiatan esok hari. Selain dibekali dengan pendidikan agama para santri juga dibekali dengan keterampilan seperti elektronik, perikanan, pertukangan, peternakan dan jahit-menjahit untuk putri. Hubungan dengan pemerintah Banyuwangi berjalan dengan baik tanpa ada konflik apapun, bahkan pemerintah pernah memberi beberapa bantuan seperti mesin jahit.

            Tidak dapat dipungkiri keberadaan pondok pesantren kini mulai menjadi mutiara di tengah karang. Pondok Pesantren mendidik santrinya agar bisa tetap memegang teguh dan mengembangkan agama di tengah era globalisasi . Karena hal itu saat ini keberadaan Pondok Pesantren dinilai penting bagi masyarakat. Namun, bukan hanya pondok pesantren yang mendidik para santri dalam bidang agama, para guru ngaji di musholla kecil juga sangat berperan. Hal di ungkapkan oleh KH Ahmad Khotib Habibullah beliau selalu berpesan “Belajarlah untuk mengembangkan agama Islam bukan untuk mencari title dan tujuan-tujuan lain. Dan jangan pernah meremehkan guru ngaji di mushalla kecil karena tanpa mereka Pondok pesantren besar tak akan berdiri maka dari itu kita harus menghargai mereka”.

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :

Pengirim : Yudho -  [Yudho@gmail.com]  Tanggal : 18/08/2016
saya ini sudah lulus sekolah smk sekarang sudah kuliah.kalau mau belajar agama di pondok kira\" bisa apa tidak ya?


   Kembali ke Atas